Wisuda Angkatan Ke 22 Dayah Terpadu Al-Muslimun

Lhoksukon – Dayah Terpadu Al-Muslimun kembali menggelar wisuda untuk tahun ini. Acara Wisuda Angkatan ke 22 dilaksanakan di halaman komplek dayah, berlangsung dengan baik dan meriah, selasa 30 April 2019.

Acara dimulai pada pukul 08.30 dengan berbagai penampilan seni, nasyid, rapai dan rebana, yang ditampilkan oleh santri MIT Al-Muslimun dan santri MTs Al-Muslimun dan Santri Aliyah. Pembukaan Resmi dibuka pada pukul 09.30 dilanjutkan dengan pembacaan surat suci Al-Quran, Mars Al-Muslimun, dan Lagu Indonesia Raya.

Kata sambutan oleh Kepala Madrasah Aliyah Al-Muslimun, Ust Nukman menyampaikan terimakasih untuk semua peserta dan undangan yang telah berhadir dalam kegiatan wisuda. Wisudawan dan Wisudawati untuk tahun ini sebanyak 126 santri, 5 santri berhasil mengkhatamkan hafalan al-Qur’an 30 Juz, berbeda dengan tahun lalu, hanya 2 santri yang berhasil menghafal 30 Juz.

Kata Sambutan juga disampaikan oleh perwakilan Bupati Aceh Utara serta Kakankemenang Aceh. Kemudian dilanjutkan oleh Pimpinan Dayah H. Arif Rahmatillah, Lc. M.E.I, beliau menyampaikan pesan-pesan penting untuk wisudawan dan wisudawati, terus mengerjakan kebiasan-kebiasan yang baik, seperti shalat tepat waktu, berjamaah, baca al-Quran dan berpuasa senin kamis, serta melepaskan santi didiknya selama ini kepada orangtua masing-masing agar terus bisa memberikan Pendidikan yang terbaik untuk Anaknya.

Kemudian dilanjutkan dengan ikrar santri dan pengukuhan Alumni Santri Dayah Terpadu Al-Muslimun ke 22. Diakhiri dengan penyerahan hadiah bagi santri hafalan Al-Quran Terbanyak, Santri Teladan, dan Santri Juara Umum. Acara berlangsung dengan baik ditutup dengan pembacaan doa.

Keutamaan Merantau Dalam Menuntut Ilmu

ahya bin Ma’in berkata bahwa salah satu golongan yang tidak akan mendapat kecerdasan adalah golongan yang hanya menulis ilmu di daerahnya sendiri tanpa berpetualang, hijrah, ataupun merantau ke daerah lain untuk mencari Hadits (ilmu).

Seringkali kita merasa cukup dengan sumber ilmu dan guru-guru yang ada di daerah sendiri. Padahal rasa kecukupan itu bisa menjadi bumerang dan hal buruk jika tidak diantisipasi. Hal buruk yang dimaksud adalah minimnya pengalaman dan pengetahuan. Dengan merantau kita akan mendapatkan ilmu dari berbagai sudut pandang, lebih menghargai ilmu, dan lebih toleran dengan perbedaan furu’iyyah.

Lihatlah bagaimana orang-orang yang hanya menuntut ilmu di daerahnya sendiri, lebih kaku dan sulit menerima perbedaan. Lebih fundamental dan kuat dalam memegang prinsip yang mendarah daging di daerahnya. Padahal boleh jadi prinsip-prinsip itu tidak semuanya baik dan tidak semua pandangan baru dari luar daerah itu buruk.

Dalam ilmu, kita haram merasa cukup. Islam, lewat lisan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kita untuk tidak berpuas diri dalam ilmu dan kita wajib terus menerus mencari ilmu, sebagaimana Hadits,

“tuntutlah ilmu sejak dari kandungan hingga ke liang lahat”

Artinya, mencari ilmu adalah pekerjaan sepanjang usia. Renungkanlah kisah Jabir bin Abdullah yang melakukan perjalanan ke Syam dengan jarak satu bulan perjalanan hanya untuk satu Hadits dari Abdullah bin Unais. Lihatlah, betapa kedudukan Abdullah bin Jubair tidak membuatnya merasa sombong dengan ilmunya. Perhatikan bagaimana ilmu mengangkat derajat pemiliknya. Jabir bin Abdullah merupakan salah satu sahabat yang utama dalam Hadits, namun begitu tawadhunya hingga bersusah payah dalam perjalanan menuju Syam menemui Abdullah bin Unais untuk satu buah Hadits.

Merantau untuk ilmu adalah hal yang sangat utama. Hal ini dicontohkan oleh para Nabi, Sahabat, dan generasi setelahnya. Tidak ada manusia yang meragukan kedudukan mulia Nabi Musa as, hingga diberi gelar Kalamullah. Jika dibandingkan kedudukan Nabi Musa as, Nabi Khidir as bukanlah apa-apa. Namun untuk ilmu, Nabi Musa as dengan tawadhunya melakukan perjalanan jauh hanya untuk ilmu. Jika manusia sehebat, semulia, dan setingkat Nabi Musa as saja merantau untuk ilmu, kenapa kita merasa cukup dengan ilmu di daerah kita? Astaghfirullah.. Alangkah takaburnya kita dalam ilmu.

Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai orang yang ingin mencari ilmu, apakah dengan mengikuti orang berilmu atau dengan merantau. Imam Ahmad menjawab bahwa yang utama adalah merantau atau melakukan perjalanan guna mencari ilmu sehingga ia bisa mengetahui ilmu orang-orang (dari daerah lain) dan belajar darinya.

Abu Ishaq Al-Ghazi mengatakan bahwa orang yang hanya menuntut ilmu di daerahnya sendiri semisal orang buta yang tidak butuh pelita. Karena ketidaktahuannya bahwa ilmu itu luas maka ia merasa tidak butuh dengan ilmu dari luar daerahnya. Ilmu adalah pelita, jangan batasi ilmu dengan berdiam diri. Merantaulah, mengasingkan diri, rihlah, bepergian ke tempat yang jauh, carilah ilmu seluas-luasnya.

Siapkan tekad, berbekallah untuk perjalananmu. Jangan ragu dengan ilmu. Abu Dzar Al-Ghifari hanya meminum air zam-zam selama 30 hari hanya untuk mendengarkan satu kalimat dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani tidak memakan apa pun selama berhari-hari untuk ilmu. Kesusahan-kesusahan yang dialami para ulama mengangkat derajat mereka. Begitulah, sebaik-baik bekal adalah takwa. Dengan takwa para ulama mencari ilmu, dengan ilmu mereka menjadi mulia dan kisahnya diceritakan sampai sekarang.

Jika kita mencermati sejarah para ulama, maka kita akan mengetahui bahwa ilmu dicari dalam perjalanan jauh, bukan hanya berdiam diri di daerah sendiri. Imam Syafi’i hijrah dari Gaza ke Madinah untuk menemui Imam Malik bin Anas. Imam Bukhari, imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal, dll merantau meski hanya untuk satu huruf. Apakah perjalanan mereka sia-sia? Tentu tidak. mereka sadar bahwa ilmu itu didatangi, bukan sebaliknya.

Kita adalah air, jika berdiam diri maka kotoran tidak akan terbersihkan, dengan merantau kita menghilangkan kotoran syubhat dalam ilmu kita. Merantau dicontohkan oleh seluruh ulama, tidak ada keburukan dalam merantau untuk ilmu. Merantaulah, karena merantau adalah kesempurnaan belajar.[1] (dakwatuna.com/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com 

Istiqamah Seorang Muslim

Perjalanan hidup tidaklah mudah, banyak aral melintang. Godaan syubhat dan syahwat terus mendatangi kita di setiap hari, sejak terbangun hingga kembali ke pembaringan. Duhai celakanya kita jika tidak bisa mengarunginya.

Setiap kita tentunya ingin untuk bisa menjadi orang yang shalih. Namun apa daya, kadang diri ini lemah dan kalah. Kalah sudah kebodohan kita oleh syubhat. Kalah sudah jiwa kita oleh syahwat. Kalah dan patah, berkali-kali. Namun wahai saudaraku, jangan biarkan beberapa kesalahan tersebut membuat jiwa kita mengalah dan menyerah, tetaplah istiqamah.

Saudaraku, kehidupan ini hanya sekali. Dan di sana hanya adalah pilihan kenikmatan abadi atau siksa abadi. Semua yang akan kita dapatkan nanti tergantung apa yang kita lakukan saat ini. Selalu ingatlah saudaraku, bahwa semua perjuangan untuk istiqamah akan mendapatkan hasil yang indah di akhirat. Dan sungguh Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang istiqamah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al-Ahqaf ayat 13)

Yakinlah saudaraku bahwa istiqamahmu tidak akan berakhir pahit, tidak akan sia-sia semua lelah dan payah yang engkau lakukan karena-Nya. Satu butir debu pun akan engkau temui balasannya di surga kelak, di akhirat kelak, di negeri yang terasa jauh namun sejatinya negeri itu dekat.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… janganlah engkau berputus asa. Mintalah kepada Allah agar memberi keteguhan, berdoalah dan bergeraklah mengerjakan amal-amal shalih. Sesungguhnya hal tersebut akan dapat membuat semangat kembali muncul, serta mendatangkan penjagaan Allah terhadap diri kita.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… teruslah berbenah, jangan pernah berputus asa. Sungguh sahabat Ibnu Mas’ud yang mulia pernah berkata:

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Kebinasaan itu ada pada dua perkara, yaitu merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga terhadap diri sendiri.” (muslimah).

Jagalah imanmu, wahai saudaraku. Tegakkan kakimu di atas kebenaran, jangan mundur dan jangan merasa lemah. Sesungguhnya Allah selalu bersamamu. Istiqmahlah hingga akhir hayat. (haryo/dakwatuna.com)

 

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2019/01/09/94900/istiqamah-hingga-akhir-hayat/#ixzz5gzy8jDcl

Kutamaan dan Kemuliaan Hari Jum’at

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]

Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Amalan Mulia

Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.

Beberapa rahasia keagungan dan keutamaan hari Jumat adalah sebagai berikut;

Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

Kedua, Hari Dikabulkannya Doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]

Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”

Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim]

Kelima, Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.*

Rep: Kholil Hibri

Editor: Cholis Akbar

sumber hidayatullah.com

Pendaftaran Santri Baru dibuka Sampai dengan 21 Feb 2019, Berikut Persyaratannya…

Lhoksukon – Dayah Terpadu Al-Muslimun kembali membuka pendaftaran santri baru untuk tahun ajaran 2019-2020. Pendaftaran mulai dibuka pada tanggal 2 Februari 2019 sampai dengan 21 Februari 2019. Penerimaan dibuka setiap hari, mulai pukul 08 pagi sampai dengan pukul 16 sore hari, bertempat di Kampus Dayah Terpadu Al-Muslimun.

Penitia penyelenggara penerimaan santri baru membuat Persyaratan yang mudah untuk tahun ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang harus menyiapkan banyak berkas, pada tahun ini persyaratan yang perlu dibawa hanya foto copy KK, Kartu NISN dan biaya pendaftaran.

Penerimaan santri baru hanya dilakukan untuk Madrasah Tsanawiyah, dengan 2 program pendidikan, yaitu : Program Pendidikan Reguler dan Tahfidzul Qur’an. Ketua Koordinator penyelenggara penerimaan santri baru 2019, Ust. Hasanuddin, S.Pd.I juga menjabat sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah saat ini, mengatakan ” Perbedaan antara Kelas Regurel dan Tahfidz, terdapat penambahan Jam mengfalal lebih banyak untuk kelas tahfidz setiap harinya, sedangkan Kelas Reguler hanya 2 jam dalam seminggu, namun demikian tidak ada batasan juga bagi santri reguler untuk menghafal Al-Quran setiap ada waktu luang dan bisa mengikuti klub tahfidz”.

Target penerimaan santri baru untuk tahun ini mencapai 350 orang, terdiri dari sanri putri dan santri putra.

Pelaksanaan ujian penerimaan satri baru dilakukan 2 tahap, pertama ujian lisan atau wawancara, dilaksakan saat melakukan pendaftaran, kedua ujian tulis, di laksanakan pada 24 Februari 2019.

Pengumuman kelulusan akan diinformasikan pada saat ujian tulisan, kemudian akan diumumkan pada di website Dayah Terpadu Al-Muslimun, akun Facebook Dayah Almuslimun, dan Channel Telegram Info Almuslimun. (Ak)

__

Facebook

Telegram Channel

 

Dekan Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Wakil MPU Kota Langsa kunjungi Almuslimun

 

Kunjungan silaturrahmi Dekan Fakultas Syariah IAIN Langsa bersama Ketua dan Wakil MPU Kota Langsa ke Dayah Terpadu Al-Muslimun Lhoksukon, selasa (11/12/2018).

Dilanjutkan dengan penanda tanganan Mou Kerjasama pendidikan antara Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Dayah Terpadu Al-Muslimun.

Dalam kesempatan yang sama, Bapak dekan dan Ketua MPU minta berjumpa dengan salah satu santri dari Langsa. Subhanallah, ada harapan besar agar anak- anak ini menjadi penerus perjuangan.

Terima kasih atas semangat dan dukungan guru2 kami, semoga Dayah Terpadu Al-Muslimun dapat terus mengabdi untuk mendidik calon generasi ulama untuk masa mendatang.

Demikian juga kerjasama antar lembaga pendidikan .. Insya allah akan memperkuat konsep pengkaderan yang lebih baik.

Terima kasih kepada semuanya yang selalu mendukung Dayah Terpadu Al-Muslimun.

Pimpinan Dayah Al-Muslimun

MIT AL-MUSLIMUN LAUNCHING POJOK BACA

Lhoksukon – Dayah Terpadu Al-Muslimun, Senin 24/09/2018.

Bismillahirrahmanirrahim … “Bacalah dengan nama Tuhanmu yg telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Perintah pertama dlm kehidupan manusia adalah membaca. Agar ia dapat melihat kehidupan dg sebenarnya. Kebesaran dan kesempurnaan sang maha pencipta dlm setiap ciptaan-Nya, sehingga ia mau menundukkan dan merendahkan dirinya sebagasi hamba. Ia juga dapat melihat kekurangan dan kelemahan diri sebagai manusia, sehingga ia tidak pongah, sombong dan merasa hebat. Dengan membaca, manusia terangkat derajatnya dan dapat memilih jalan terbaik dalam hidupnya.

Gemar Membaca .. Awal pendidikan yg kami tanamkan pada setiap anak didik kami di MIT Al-Muslimun. Rasa cinta dan haus pada ilmu pengetahuan akan menarik setiap anak didik utk mau bercita2. Dengan cita-cita yg tinggi, ia akan berusaha melewati setiap rintangan dan akan berusaha dengan penuh semangat utk sampai pada impiannya.

Pagi ini, bersama ketua yayasan dan dewan manajemen Dayah Terpadu Almuslimun melauchingkan Ruang Sudut Baca di setiap kelas MIT Almuslimun, sekaligus menyumbangkan beberapa buku bacaan utk setiap kelas. Walaupun kecil, tetapi efeknya besar utk masa depan ananda-ananda tercinta. Mereka akan mulai mengenal dunia di sudut ini, kemudian akan menjelajahnya di kemudian hari.

Terima kasih Kepala Mit Almuslimun, seluruh wali kelas dan dewan guru atas karya dan program hebatnya. Teruslah mengukir kerja nyata dlm mencetak kader bangsa. Antum adalah guru yg hebat.

Anak2 kami para siswa .. Ananda semua telah menunjukkan betapa besar cinta ananda pada ilmu dan islam. Hiasan yg indah mengukir setiap sudut ruangan, dengan buku yg tertata rapi. Teruskan … ada kesuksesan yg menanti di suatu hari … Biiznillah

Pimpinan Dayah Terpadu Al-Muslimun  – Ust. Arif Rahmatillah Jafar, Lc. Dipl. M. E. I

Pemuda Zaman Now dan Kisah Ashabul Kahfi

ampir setiap orang Islam tau Surat Al-Kahfi, karena surat tersebut sangat dianjurkan untuk membacanya di hari Jum’at. Bagi orang yang membacanya dijanjikan ganjaran dan pahala yang besar.Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Hajar dalam Takhrijul Adzkar dengan status hadits hasan, dari Abu Said al-Khudri ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

مَن قرأ سورةَ [الكهف] في يومِ الجمعةِ؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at, ia akan diterangi dengan sinar di antara dua Jum’at

Ibnu Hajar juga mengatakan: “ini adalah hadits paling bagus kualitasnya dalam bahasan keutamaan membaca surat Al Kahfi.”

Imam Asy Syafi’i dalam kitab Al Umm (1/208) mengatakan:

بلَغَنَا أَنَّ من قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةُ الدَّجَّالِ، وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ على النبي (صلى اللَّهُ عليه وسلم) في كل حَالٍ وأنا في يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا، وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جاء فيها

“telah sampai dalil kepadaku bahwa orang yang membaca surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dan aku menyukai seseorang itu memperbanyak shalawat kepada Nabi Saw di setiap waktu dan di hari Jum’at serta malam Jum’at lebih ditekankan lagi anjurannya. Dan aku juga menyukai seseorang itu membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at dan pada hari Jum’at karena terdapat dalil mengenai hal ini”.

Surat yang indah ini dinamakan dengan surat “Kahfi”, nama yang mungkin sangat aneh bagi orang-orang Arab pada masa itu. Sehingga nama yang aneh ini menarik perhatian orang untuk mengkaji lebih dalam tentang isi kandungannya. Surat ini diberi nama al-kahfi yang berarti gua, kenapa? Tentu jawabnya, karena didalamnya menceritakan tentang ashabul kahfi (penghuni gua). Siapakah mereka? Dan mengapa mereka berada di dalamnya? Maka surat al-Kahfi ini benar-benar menarik perhatian orang-orang yang memiliki intelektual untuk mengkajinya.

Dalam ayat 9, surat Al-Kahfi Allah SWT mengatakan:

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبً

Ataukah  kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua itu dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”

Apa yang dimaksud dengan ar-Raqiim? Sebagian ahli tafsir mengartikan ar-raqiim itu nama anjing, dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat.

Kata Ar-raqiim itu berarti al-marqum artinya al-maktub yaitu yang ditulis. Dalam surat al-Muthaffifin ayat 9, Allah SWT menyebutkan:

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

“(ialah) kitab yang bertulis.”

Jadi ar-raqiim adalah sesuatu yang ditulis. Apa yang ditulis? Yang ditulis itu adalah kisah ashabul kahfi.

Kisah ashabul kahfi  adalah kisah yang sangat menarik. Kisah ini sangat menarik dan penting bagi generasi sekarang dan masa mendatang, maka sangat pantas kisah ini ditulis. Ditulis dalam lembaran wahyu, tersimpan dalam Al-quran untuk terus dibaca sepanjang masa.

Surat Al-Kahfi ini turun kepada Nabi Muhammad Saw ketika beliau berada di Mekkah, pada saat umat Islam sedang benar-benar dalam tekanan kaum musyrikin. Kisah ini datang untuk memperlihat gambaran perjuangan generasi terdahulu dalam menghadapi tantangan, serta bagaimana meraih keberhasilan di masa selanjutnya.

Di saat umat Islam hari ini menghadapi berbagai tekanan. Berhadapan dengan kekuasaan dan kedhaliman, dikucilkan oleh tirani dan kekuasaan, serta ditindas dengan fitnah dan tipu daya. Maka sudah sangat pantas generasi sekarang ini untuk membuka lembaran wahyu yang mengisahkan tentang generasi sebelumnya. Apalagi hari ini, generasi muda Islam yang merupakan kekuatan peradaban, kunci kebangkitan dan masa depan, serta penerus estafet perjuangan umat. Namun mereka dibuat tidak berdaya, dijajah alam pemikirannya, diracuni dengan budaya dan teknologi. Sehingga generasi muda Islam kini hidup bagaikan boneka mainan yang tidak lagi memiliki kepribadian dan kehormatan. Akhirnya, mereka hidup tanpa arah dan tujuan, tidak punya cita-cita dan impian, bahkan tidak memiliki semangat perjuangan. Kondisi generasi muda hari ini adalah gambaran kelam bagi masa depan umat Islam. Untuk itu, kisah ashabul kahfi menjadi panduan bagaimana karakter ideal para pemuda Islam.

Dalam ayat 13 dan 14 surat al-Kahfi, Allah SWT berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

“dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri[2], lalu mereka pun berkata, “Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran”.

Kedua ayat di atas menerangkan tentang karakteristik pemuda. Diksi yang Allah gunakan pun khas untuk para pemuda. Begitu mulianya peran para pemuda dalam agama ini, sehingga Allah mengisahkannya khusus dalam Al-Qur’an. Jumhur ulama bersepakat jika kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah cerita-cerita pilihan. Bukan saja kadar komposisinya terbanyak dalam Al-Qur’an yang mencapai 2/3 isi Al-Quran, akan tetapi kisah dan sejarah tersebut merupakan metode dakwah dan tarbiyah ilahiyah. Begitulah cara Allah mentarbiyah kita melalui pesan-pesan historis para nabi, rasul, dan orang-orang beriman dan shalih di masa lalu. Bahkan cerita tentang pemuda ini masuk dalam salah satu kisah yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an, yaitu Surat al-Kahfi.

Karakteristik pemuda pejuang tergambar jelas dalam ayat diatas. Mereka adalah pemuda yang memiliki keteguhan, ketangguhan dan ketabahan dalam perjuangan. Kepahlawanan mereka tak akan sirna dalam ingatan generasi setelahnya. Kita mengenal mereka sebagai “Pemuda Kahfi”, karena kesabaran mereka menghadapi resiko dan Allah memuliakan mereka.

Setidaknya, ada 3 kata kerja (fi’il)dalam dua ayat diatas yang menggambarkan karakter perjuangan pemuda Islam, yaitu:

Pertama, kata   آمنوا(mereka beriman). Mereka memiliki keyakinan, kedalaman iman, dan keteguhan hati. Kekuatan tekad mereka dalam jalan perjuangan bersumber dari keimanan yang menancap kuat di hati dan jiwa mereka. Ada faktor transenden antara ruh dan Sang Pencipta. Dengan iman yang kuat, maka ketaqwaan yang menjadi perisai utama mereka agar tetap tegar dalam perjuangan. Dengan demikian, tidak ada masalah sedikit pun dalam hal kedekatan mereka dengan Allah. Mereka merasakan janji dan pertolongan Allah begitu tampak dekat, sehingga kemudian Allah menambahkan petunjuk-Nya untuk mereka.

Kedekatan mereka dengan Allah SWT, terlihat jelas dalam ayat 10 surat al-Kahfi:

 إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

Arti kata أوى – يأوي – إيواء  dalam dalam bahasa Arab bermakna mendatanginya untuk mendapatkan ketenangan dan perlindungan. Sebagaimana kata aawa tersebut digunakan dalam beberapa ayat lainnya seperti dalam firman Allah SWT:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”  (QS. Adh-Dhuha: 6)

Demikian juga dalam kisah Nabi Yusuf as.:

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ

“dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, lalu Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya.” (QS. Yusuf: 69)

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 41)

Mengapa mereka itu mencari perlindungan ke gua? Apakah gua tempat yang menentramkan? Bukankah gua itu tempat yang pengap, dipenuhi dengan binatang-binatang berbisa? Tempatnya sempit, tiada makanan? Gua bukanlah tempat yang nyaman. Mereka berlari ke gua karena panggilan iman kepada Allah. Ketenangan bagi mereka bukan pada tempat yang indah atau fasilitas yang mencukupi. Ketenangan mereka ada saat mereka ada di sisi Allah, Sang Maha pemberi ketenangan sejati.

Kedua, kata  قاموا (berdiri). Kata “berdiri” biasanya diidentikkan sebagai antitesis dari kata “duduk”. Jadi, karakter perjuangan pemuda Islam ialah ketidakrelaan mereka untuk duduk-duduk santai. Mereka tak menyempatkan dirinya untuk berleha-leha dalam berjuang, memperbanyak istirahat, atau sekadar berpangku tangan. Ada ketidaknyamanan dalam dirinya di saat orang lain berjuang, namun dirinya tak mampu memberikan kontribusi kongkrit. Seorang pemuda Islam selalu bangkit dari keterpurukan dan kefuturan yang melanda. Mereka selalu punya semangat saat yang lain lumpuh dan lesu. Mereka rela untuk mencabut rasa kantuk dari pelupuk mata, lalu bangkit dan bekerja. Bahkan mereka merasa sangat rugi jika mata terkantuk-kantuk saat berada di medan juang. Mereka selalu menabur dan menebar inspirasi kebangkitan saat orang lain bosan untuk bangkit, bahkan melupakan perjuangan.

Kondisi sulit yang dialami umat Islam hari ini adalah buah dari sikap pemuda Islam kini mudah berpangku tangan, diam dan tidak peduli. Pemuda zaman now terperangkap dalam slogan “menikmati masa muda selagi masih bisa”. Mereka lupa dengan jati diri, apalagi dengan potensi yang menjadi anugerah terindah “usia emas”. Kondisi yang maksimal dalam peranggan waktu usia manusia dimiliki sepenuhnya oleh pemuda. Terkadang permata itu terbuang begitu saja tanpa kerja nyata dan prestasi, apalagi ada sebagian yang sengaja mencampaknya bahkan merusaknya dalam jaringan narkoba.

Ketiga, kata قالوا (berkata). Berani berkata benar adalah karakter perjuangan pemuda Islam yang luar biasa. Pemuda selalu deklaratif dalam perjuangan. Mereka tak segan-segan memproklamirkan kebenaran, bahkan saat berada di hadapan pemimpin yang zhalim. Pemuda Islam pun tak henti-hentinya berkreasi dan atraktif dalam bergerak. Mereka tak pernah kehabisan ide dan siasat perjuangan. Mereka tak mau bungkam untuk menyuarakan hak rakyat yang tertindas. Mereka tidak bisa diam untuk mencerdaskan umat yang tertipu propaganda musuh. Pemuda pejuang akan terus menuntut perbaikan dan senantiasa berpartisipasi aktif sebagai persembahan setulus-tulusnya bagi umat yang sedang terseok-seok nasibnya.

Merekalah para pemuda yang senantiasa bersuara dalam dunia nyata maupun dunia maya via media massa dan media sosial. Karena, pemuda pejuang selalu bertekad untuk tidak menutup mulutnya karena ketakutan. Tangan mereka pun tak gentar karena ancaman. Mereka senantiasa berbuat, berkarya, serta tidak lunglai lututnya karena ancaman dan penderitaan.

Dalam sebuah kesempatan, Amirul Mukiminin Umar bin Khattab berkata: “jika aku sedang menghadapi masalah besar, maka yang kupanggil adalah para pemuda.” Demikian juga Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pernah mengatakan, Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Wallahul musta’an, wailai turja’ul umur

 

Oleh Ust. Arif Rahmatillah Jafar, Lc. Dipl. M. E. I

Taman Baca Dayah Al-Muslimun

Dayah Terpadu Almuslimun mengadakan agenda Taman Baca selama 17 hari di bulan september 2018.

Santriwati sedang menbaca buku di taman baca Dayah Al-Muslimun

Ketua OPDM Bidang IJA Vaizatun Najwa dan rekan tim IJA mulai melaksanakan perencanaan, persiapan hingga pelaksanaan Taman Baca tersebut selama sebulan sebelum tangga 11 september 2018.

Alasan penempatan lokasi ini dikarenakan adanya tempat baca santai dibawah “pohon roda”. Pohon roda tersebut sudah dilengkapi dengan lantai keramik dengan luas 10×10 meter dan luas dedaunan pohonnya mencapai 10 meter melingkar pohonnya.

Setiap harinya Taman Baca IJA dikunjungi 50 hingga 60 santriwati. Taman Baca khusus santriwati ini lebih dominan bancaannya tentang motovasi, bidang ilmu, riwayat rasul, perjuangan tokoh ulama, mukjizat dan komik islami.

Adapun masa pelaksanaanya pada jam 16.30 sampai dengan 17.30 setiap hari senin, selasa dan kamis. Sedangkan pada hari jumat dibuka dari jam 09.90 sampai dengan 17.30 dengan jeda diwaktu shalat Jumat dan Ashar.

 

Oleh Rahmatika & Ika Yuliansa

Santri Dayah Al-Muslimun Menyambut 1 Muharram 1440

Mengawali tahun baru islam atau yang sering disebut dengan 1 Muharram dianjurkan dengan melakukan kegiatan islami sebagai ibdah pembuka menuju perjalanan 1 tahun kedepan.

11 September 2018, Bidang Dakwah dan Sosial Dayah Terpadu Almuslimun Mengadakan acara dakwah.

Penceramah Ust Adnan Yahya, M.Pd

Pada kesempatan ini Ust Adnan Yahya, M.Pd diundang sebagai penceramah dalam rangka tahunan tersebut. 1.200 lebih santriwan dan santriwati, sekitar 19 guru laki-lai dan 20an guru perempuan ikut serta memeriahkan acara yang dimulai dari jam 08.30 hingga 12.00 ini.

Santriwati Dayah Al-Muslimun

Santriwan Dayah Al-Muslimun

Alhamdulillah kegiatan yang diadakan di Mesjid Almuslimun ini atas izin Allah terlaksana dengan baik.Semoga kedepannya Al-muslimun semakin jaya dan tetap berkesempatan menyambut 1 Muharam nuansa islami.

Pimpinan Dayah Al-Muslimun bersama Penceramah

Oleh Vaizatun Najwa