Libur Idul Adha; Etiket Perpulangan

Lhoksukon- Rabu (7/08/19) bertepatan pada malam perpulangan libur idul adha. Seluruh santri Dayah Terpadu Almuslimun berkumpul guna mengikuti etiket perpulangan yang disampaikan lansung oleh pimpinan dayah H. Arif Rahmatillah Jafar, Lc, Dipl, M.E.I dan kepala pengasuhan Dedy Gusmadi,S.Pd.I. Acara ini dilaksanakan setelah menunaikan shalat Isya berjamaah di Mesjid Dayah Terpadu Almuslimun Lhoksukon.

Dalam kesempatan ini pimpinan dayah menegaskan, selama liburan santri Almuslimun harus mempertahankan akhlak dan imannya. Santri juga harus menegakkan islam dalam hatinya. Karena suasana di kampung halaman nanti akan berbeda dengan suasana yang ada didalam dayah selama ini.

Pimpinan juga mengingatkan, yang akan memperberat timbangan amal manusia nantinya adalah akhlak yang mulia. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah Saw “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-kata keji.” (HR. At-Tirmidzi).

Selain itu, kepala pengasuhan Dedy Gusmadi juga sempat menyampaikan perihal beberapa perubahan pada aturan dan tata tertib dayah terutama dalam hal perizinan. Dan akan diberlakukan setelah perpulangan libur idul adha nanti.

Keutamaan Merantau Dalam Menuntut Ilmu

ahya bin Ma’in berkata bahwa salah satu golongan yang tidak akan mendapat kecerdasan adalah golongan yang hanya menulis ilmu di daerahnya sendiri tanpa berpetualang, hijrah, ataupun merantau ke daerah lain untuk mencari Hadits (ilmu).

Seringkali kita merasa cukup dengan sumber ilmu dan guru-guru yang ada di daerah sendiri. Padahal rasa kecukupan itu bisa menjadi bumerang dan hal buruk jika tidak diantisipasi. Hal buruk yang dimaksud adalah minimnya pengalaman dan pengetahuan. Dengan merantau kita akan mendapatkan ilmu dari berbagai sudut pandang, lebih menghargai ilmu, dan lebih toleran dengan perbedaan furu’iyyah.

Lihatlah bagaimana orang-orang yang hanya menuntut ilmu di daerahnya sendiri, lebih kaku dan sulit menerima perbedaan. Lebih fundamental dan kuat dalam memegang prinsip yang mendarah daging di daerahnya. Padahal boleh jadi prinsip-prinsip itu tidak semuanya baik dan tidak semua pandangan baru dari luar daerah itu buruk.

Dalam ilmu, kita haram merasa cukup. Islam, lewat lisan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kita untuk tidak berpuas diri dalam ilmu dan kita wajib terus menerus mencari ilmu, sebagaimana Hadits,

“tuntutlah ilmu sejak dari kandungan hingga ke liang lahat”

Artinya, mencari ilmu adalah pekerjaan sepanjang usia. Renungkanlah kisah Jabir bin Abdullah yang melakukan perjalanan ke Syam dengan jarak satu bulan perjalanan hanya untuk satu Hadits dari Abdullah bin Unais. Lihatlah, betapa kedudukan Abdullah bin Jubair tidak membuatnya merasa sombong dengan ilmunya. Perhatikan bagaimana ilmu mengangkat derajat pemiliknya. Jabir bin Abdullah merupakan salah satu sahabat yang utama dalam Hadits, namun begitu tawadhunya hingga bersusah payah dalam perjalanan menuju Syam menemui Abdullah bin Unais untuk satu buah Hadits.

Merantau untuk ilmu adalah hal yang sangat utama. Hal ini dicontohkan oleh para Nabi, Sahabat, dan generasi setelahnya. Tidak ada manusia yang meragukan kedudukan mulia Nabi Musa as, hingga diberi gelar Kalamullah. Jika dibandingkan kedudukan Nabi Musa as, Nabi Khidir as bukanlah apa-apa. Namun untuk ilmu, Nabi Musa as dengan tawadhunya melakukan perjalanan jauh hanya untuk ilmu. Jika manusia sehebat, semulia, dan setingkat Nabi Musa as saja merantau untuk ilmu, kenapa kita merasa cukup dengan ilmu di daerah kita? Astaghfirullah.. Alangkah takaburnya kita dalam ilmu.

Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai orang yang ingin mencari ilmu, apakah dengan mengikuti orang berilmu atau dengan merantau. Imam Ahmad menjawab bahwa yang utama adalah merantau atau melakukan perjalanan guna mencari ilmu sehingga ia bisa mengetahui ilmu orang-orang (dari daerah lain) dan belajar darinya.

Abu Ishaq Al-Ghazi mengatakan bahwa orang yang hanya menuntut ilmu di daerahnya sendiri semisal orang buta yang tidak butuh pelita. Karena ketidaktahuannya bahwa ilmu itu luas maka ia merasa tidak butuh dengan ilmu dari luar daerahnya. Ilmu adalah pelita, jangan batasi ilmu dengan berdiam diri. Merantaulah, mengasingkan diri, rihlah, bepergian ke tempat yang jauh, carilah ilmu seluas-luasnya.

Siapkan tekad, berbekallah untuk perjalananmu. Jangan ragu dengan ilmu. Abu Dzar Al-Ghifari hanya meminum air zam-zam selama 30 hari hanya untuk mendengarkan satu kalimat dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani tidak memakan apa pun selama berhari-hari untuk ilmu. Kesusahan-kesusahan yang dialami para ulama mengangkat derajat mereka. Begitulah, sebaik-baik bekal adalah takwa. Dengan takwa para ulama mencari ilmu, dengan ilmu mereka menjadi mulia dan kisahnya diceritakan sampai sekarang.

Jika kita mencermati sejarah para ulama, maka kita akan mengetahui bahwa ilmu dicari dalam perjalanan jauh, bukan hanya berdiam diri di daerah sendiri. Imam Syafi’i hijrah dari Gaza ke Madinah untuk menemui Imam Malik bin Anas. Imam Bukhari, imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal, dll merantau meski hanya untuk satu huruf. Apakah perjalanan mereka sia-sia? Tentu tidak. mereka sadar bahwa ilmu itu didatangi, bukan sebaliknya.

Kita adalah air, jika berdiam diri maka kotoran tidak akan terbersihkan, dengan merantau kita menghilangkan kotoran syubhat dalam ilmu kita. Merantau dicontohkan oleh seluruh ulama, tidak ada keburukan dalam merantau untuk ilmu. Merantaulah, karena merantau adalah kesempurnaan belajar.[1] (dakwatuna.com/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com 

Istiqamah Seorang Muslim

Perjalanan hidup tidaklah mudah, banyak aral melintang. Godaan syubhat dan syahwat terus mendatangi kita di setiap hari, sejak terbangun hingga kembali ke pembaringan. Duhai celakanya kita jika tidak bisa mengarunginya.

Setiap kita tentunya ingin untuk bisa menjadi orang yang shalih. Namun apa daya, kadang diri ini lemah dan kalah. Kalah sudah kebodohan kita oleh syubhat. Kalah sudah jiwa kita oleh syahwat. Kalah dan patah, berkali-kali. Namun wahai saudaraku, jangan biarkan beberapa kesalahan tersebut membuat jiwa kita mengalah dan menyerah, tetaplah istiqamah.

Saudaraku, kehidupan ini hanya sekali. Dan di sana hanya adalah pilihan kenikmatan abadi atau siksa abadi. Semua yang akan kita dapatkan nanti tergantung apa yang kita lakukan saat ini. Selalu ingatlah saudaraku, bahwa semua perjuangan untuk istiqamah akan mendapatkan hasil yang indah di akhirat. Dan sungguh Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang istiqamah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al-Ahqaf ayat 13)

Yakinlah saudaraku bahwa istiqamahmu tidak akan berakhir pahit, tidak akan sia-sia semua lelah dan payah yang engkau lakukan karena-Nya. Satu butir debu pun akan engkau temui balasannya di surga kelak, di akhirat kelak, di negeri yang terasa jauh namun sejatinya negeri itu dekat.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… janganlah engkau berputus asa. Mintalah kepada Allah agar memberi keteguhan, berdoalah dan bergeraklah mengerjakan amal-amal shalih. Sesungguhnya hal tersebut akan dapat membuat semangat kembali muncul, serta mendatangkan penjagaan Allah terhadap diri kita.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… teruslah berbenah, jangan pernah berputus asa. Sungguh sahabat Ibnu Mas’ud yang mulia pernah berkata:

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Kebinasaan itu ada pada dua perkara, yaitu merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga terhadap diri sendiri.” (muslimah).

Jagalah imanmu, wahai saudaraku. Tegakkan kakimu di atas kebenaran, jangan mundur dan jangan merasa lemah. Sesungguhnya Allah selalu bersamamu. Istiqmahlah hingga akhir hayat. (haryo/dakwatuna.com)

 

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2019/01/09/94900/istiqamah-hingga-akhir-hayat/#ixzz5gzy8jDcl

Kutamaan dan Kemuliaan Hari Jum’at

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]

Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Amalan Mulia

Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.

Beberapa rahasia keagungan dan keutamaan hari Jumat adalah sebagai berikut;

Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

Kedua, Hari Dikabulkannya Doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]

Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”

Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim]

Kelima, Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.*

Rep: Kholil Hibri

Editor: Cholis Akbar

sumber hidayatullah.com

Pemuda Zaman Now dan Kisah Ashabul Kahfi

ampir setiap orang Islam tau Surat Al-Kahfi, karena surat tersebut sangat dianjurkan untuk membacanya di hari Jum’at. Bagi orang yang membacanya dijanjikan ganjaran dan pahala yang besar.Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Hajar dalam Takhrijul Adzkar dengan status hadits hasan, dari Abu Said al-Khudri ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

مَن قرأ سورةَ [الكهف] في يومِ الجمعةِ؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at, ia akan diterangi dengan sinar di antara dua Jum’at

Ibnu Hajar juga mengatakan: “ini adalah hadits paling bagus kualitasnya dalam bahasan keutamaan membaca surat Al Kahfi.”

Imam Asy Syafi’i dalam kitab Al Umm (1/208) mengatakan:

بلَغَنَا أَنَّ من قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةُ الدَّجَّالِ، وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ على النبي (صلى اللَّهُ عليه وسلم) في كل حَالٍ وأنا في يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا، وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جاء فيها

“telah sampai dalil kepadaku bahwa orang yang membaca surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dan aku menyukai seseorang itu memperbanyak shalawat kepada Nabi Saw di setiap waktu dan di hari Jum’at serta malam Jum’at lebih ditekankan lagi anjurannya. Dan aku juga menyukai seseorang itu membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at dan pada hari Jum’at karena terdapat dalil mengenai hal ini”.

Surat yang indah ini dinamakan dengan surat “Kahfi”, nama yang mungkin sangat aneh bagi orang-orang Arab pada masa itu. Sehingga nama yang aneh ini menarik perhatian orang untuk mengkaji lebih dalam tentang isi kandungannya. Surat ini diberi nama al-kahfi yang berarti gua, kenapa? Tentu jawabnya, karena didalamnya menceritakan tentang ashabul kahfi (penghuni gua). Siapakah mereka? Dan mengapa mereka berada di dalamnya? Maka surat al-Kahfi ini benar-benar menarik perhatian orang-orang yang memiliki intelektual untuk mengkajinya.

Dalam ayat 9, surat Al-Kahfi Allah SWT mengatakan:

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبً

Ataukah  kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua itu dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”

Apa yang dimaksud dengan ar-Raqiim? Sebagian ahli tafsir mengartikan ar-raqiim itu nama anjing, dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat.

Kata Ar-raqiim itu berarti al-marqum artinya al-maktub yaitu yang ditulis. Dalam surat al-Muthaffifin ayat 9, Allah SWT menyebutkan:

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

“(ialah) kitab yang bertulis.”

Jadi ar-raqiim adalah sesuatu yang ditulis. Apa yang ditulis? Yang ditulis itu adalah kisah ashabul kahfi.

Kisah ashabul kahfi  adalah kisah yang sangat menarik. Kisah ini sangat menarik dan penting bagi generasi sekarang dan masa mendatang, maka sangat pantas kisah ini ditulis. Ditulis dalam lembaran wahyu, tersimpan dalam Al-quran untuk terus dibaca sepanjang masa.

Surat Al-Kahfi ini turun kepada Nabi Muhammad Saw ketika beliau berada di Mekkah, pada saat umat Islam sedang benar-benar dalam tekanan kaum musyrikin. Kisah ini datang untuk memperlihat gambaran perjuangan generasi terdahulu dalam menghadapi tantangan, serta bagaimana meraih keberhasilan di masa selanjutnya.

Di saat umat Islam hari ini menghadapi berbagai tekanan. Berhadapan dengan kekuasaan dan kedhaliman, dikucilkan oleh tirani dan kekuasaan, serta ditindas dengan fitnah dan tipu daya. Maka sudah sangat pantas generasi sekarang ini untuk membuka lembaran wahyu yang mengisahkan tentang generasi sebelumnya. Apalagi hari ini, generasi muda Islam yang merupakan kekuatan peradaban, kunci kebangkitan dan masa depan, serta penerus estafet perjuangan umat. Namun mereka dibuat tidak berdaya, dijajah alam pemikirannya, diracuni dengan budaya dan teknologi. Sehingga generasi muda Islam kini hidup bagaikan boneka mainan yang tidak lagi memiliki kepribadian dan kehormatan. Akhirnya, mereka hidup tanpa arah dan tujuan, tidak punya cita-cita dan impian, bahkan tidak memiliki semangat perjuangan. Kondisi generasi muda hari ini adalah gambaran kelam bagi masa depan umat Islam. Untuk itu, kisah ashabul kahfi menjadi panduan bagaimana karakter ideal para pemuda Islam.

Dalam ayat 13 dan 14 surat al-Kahfi, Allah SWT berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

“dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri[2], lalu mereka pun berkata, “Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran”.

Kedua ayat di atas menerangkan tentang karakteristik pemuda. Diksi yang Allah gunakan pun khas untuk para pemuda. Begitu mulianya peran para pemuda dalam agama ini, sehingga Allah mengisahkannya khusus dalam Al-Qur’an. Jumhur ulama bersepakat jika kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah cerita-cerita pilihan. Bukan saja kadar komposisinya terbanyak dalam Al-Qur’an yang mencapai 2/3 isi Al-Quran, akan tetapi kisah dan sejarah tersebut merupakan metode dakwah dan tarbiyah ilahiyah. Begitulah cara Allah mentarbiyah kita melalui pesan-pesan historis para nabi, rasul, dan orang-orang beriman dan shalih di masa lalu. Bahkan cerita tentang pemuda ini masuk dalam salah satu kisah yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an, yaitu Surat al-Kahfi.

Karakteristik pemuda pejuang tergambar jelas dalam ayat diatas. Mereka adalah pemuda yang memiliki keteguhan, ketangguhan dan ketabahan dalam perjuangan. Kepahlawanan mereka tak akan sirna dalam ingatan generasi setelahnya. Kita mengenal mereka sebagai “Pemuda Kahfi”, karena kesabaran mereka menghadapi resiko dan Allah memuliakan mereka.

Setidaknya, ada 3 kata kerja (fi’il)dalam dua ayat diatas yang menggambarkan karakter perjuangan pemuda Islam, yaitu:

Pertama, kata   آمنوا(mereka beriman). Mereka memiliki keyakinan, kedalaman iman, dan keteguhan hati. Kekuatan tekad mereka dalam jalan perjuangan bersumber dari keimanan yang menancap kuat di hati dan jiwa mereka. Ada faktor transenden antara ruh dan Sang Pencipta. Dengan iman yang kuat, maka ketaqwaan yang menjadi perisai utama mereka agar tetap tegar dalam perjuangan. Dengan demikian, tidak ada masalah sedikit pun dalam hal kedekatan mereka dengan Allah. Mereka merasakan janji dan pertolongan Allah begitu tampak dekat, sehingga kemudian Allah menambahkan petunjuk-Nya untuk mereka.

Kedekatan mereka dengan Allah SWT, terlihat jelas dalam ayat 10 surat al-Kahfi:

 إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

Arti kata أوى – يأوي – إيواء  dalam dalam bahasa Arab bermakna mendatanginya untuk mendapatkan ketenangan dan perlindungan. Sebagaimana kata aawa tersebut digunakan dalam beberapa ayat lainnya seperti dalam firman Allah SWT:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”  (QS. Adh-Dhuha: 6)

Demikian juga dalam kisah Nabi Yusuf as.:

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ

“dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, lalu Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya.” (QS. Yusuf: 69)

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 41)

Mengapa mereka itu mencari perlindungan ke gua? Apakah gua tempat yang menentramkan? Bukankah gua itu tempat yang pengap, dipenuhi dengan binatang-binatang berbisa? Tempatnya sempit, tiada makanan? Gua bukanlah tempat yang nyaman. Mereka berlari ke gua karena panggilan iman kepada Allah. Ketenangan bagi mereka bukan pada tempat yang indah atau fasilitas yang mencukupi. Ketenangan mereka ada saat mereka ada di sisi Allah, Sang Maha pemberi ketenangan sejati.

Kedua, kata  قاموا (berdiri). Kata “berdiri” biasanya diidentikkan sebagai antitesis dari kata “duduk”. Jadi, karakter perjuangan pemuda Islam ialah ketidakrelaan mereka untuk duduk-duduk santai. Mereka tak menyempatkan dirinya untuk berleha-leha dalam berjuang, memperbanyak istirahat, atau sekadar berpangku tangan. Ada ketidaknyamanan dalam dirinya di saat orang lain berjuang, namun dirinya tak mampu memberikan kontribusi kongkrit. Seorang pemuda Islam selalu bangkit dari keterpurukan dan kefuturan yang melanda. Mereka selalu punya semangat saat yang lain lumpuh dan lesu. Mereka rela untuk mencabut rasa kantuk dari pelupuk mata, lalu bangkit dan bekerja. Bahkan mereka merasa sangat rugi jika mata terkantuk-kantuk saat berada di medan juang. Mereka selalu menabur dan menebar inspirasi kebangkitan saat orang lain bosan untuk bangkit, bahkan melupakan perjuangan.

Kondisi sulit yang dialami umat Islam hari ini adalah buah dari sikap pemuda Islam kini mudah berpangku tangan, diam dan tidak peduli. Pemuda zaman now terperangkap dalam slogan “menikmati masa muda selagi masih bisa”. Mereka lupa dengan jati diri, apalagi dengan potensi yang menjadi anugerah terindah “usia emas”. Kondisi yang maksimal dalam peranggan waktu usia manusia dimiliki sepenuhnya oleh pemuda. Terkadang permata itu terbuang begitu saja tanpa kerja nyata dan prestasi, apalagi ada sebagian yang sengaja mencampaknya bahkan merusaknya dalam jaringan narkoba.

Ketiga, kata قالوا (berkata). Berani berkata benar adalah karakter perjuangan pemuda Islam yang luar biasa. Pemuda selalu deklaratif dalam perjuangan. Mereka tak segan-segan memproklamirkan kebenaran, bahkan saat berada di hadapan pemimpin yang zhalim. Pemuda Islam pun tak henti-hentinya berkreasi dan atraktif dalam bergerak. Mereka tak pernah kehabisan ide dan siasat perjuangan. Mereka tak mau bungkam untuk menyuarakan hak rakyat yang tertindas. Mereka tidak bisa diam untuk mencerdaskan umat yang tertipu propaganda musuh. Pemuda pejuang akan terus menuntut perbaikan dan senantiasa berpartisipasi aktif sebagai persembahan setulus-tulusnya bagi umat yang sedang terseok-seok nasibnya.

Merekalah para pemuda yang senantiasa bersuara dalam dunia nyata maupun dunia maya via media massa dan media sosial. Karena, pemuda pejuang selalu bertekad untuk tidak menutup mulutnya karena ketakutan. Tangan mereka pun tak gentar karena ancaman. Mereka senantiasa berbuat, berkarya, serta tidak lunglai lututnya karena ancaman dan penderitaan.

Dalam sebuah kesempatan, Amirul Mukiminin Umar bin Khattab berkata: “jika aku sedang menghadapi masalah besar, maka yang kupanggil adalah para pemuda.” Demikian juga Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pernah mengatakan, Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Wallahul musta’an, wailai turja’ul umur

 

Oleh Ust. Arif Rahmatillah Jafar, Lc. Dipl. M. E. I

Membangun Pribadi yang Tsiqah pada Qiyadah

Tinta sejarah telah mengukir dengan indah perkataan Saad bin Muadz ­radhiyallahu anhu kepada Rasulullah shallahu’alaihi wasallam di ambang perang Badar. Perkataan yang menjadi kekuatan dan keyakinan bagi Rasulullah untuk melanjutkan peperangan melawan kemusyrikan. Langkah yang sempat terhenti karena ada keraguan di hati para sahabat. Namun perkataan Saad bin Muadz ini kemudian bagaikan angin badai yang datang menghapus segala keraguan dan kegundahan, menjadi perekat bagi keutuhan jamaah dan harapan baru yang kembali bersemi dari lubuk setiap hati. Harapan yang lahir dari keimanan dan keyakinan pada kemenangan yang dijanjikan.
Saad bin Muadz berkata:

“Wahai Rasulullah.. Sungguh kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami yakin apa yang engkau datangkan adalah kebenaran. Oleh karena itu, semua kami berikan seluruh loyalitas dan ke-tsiqah-an kami kepadamu. Lanjutkanlah perjalanan ini sesuai dengan perintah Allah kepadamu.
Demi Allah, seandainya engkau ajak kami mengarungi lautan dan engkau benar – benar mengarunginya, pastilah kami akan mengarunginya, tiada satupun yang luput di antara kami. Kami biasa bersabar di medan perang, dan tegar menghadapi musuh..

Wahai Rasulullah .. teruslah berjalan dengan keberkahan Allah !!”
Inilah bentuk ketsiqahan seorang jundi kepada qaidnya, seorang kader kepada murabbinya. Asy-Syahid Hassan Al-Banna dalam Majmu’ Rasail mendefinisikan ke-­tsiqah­-an dan loyalitas adalah ketenangan hati seorang jundi (prajurit) pada pimpinannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya. Sebuah ketenangan yang sangat mendalam hingga melahirkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.

Allah subhaanahu wata’ala berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65)

Selanjutnya Allah subhaanahu wata’ala menggambarkan kondisi orang-orang yang ragu pada kemampuan dan keikhlasan pemimpin muslim:
“Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nur: 50)

Sungguh, apabila keragu-raguan menyusup dalam barisan jamaah maka kelemahan dan perpecahan akan meretakkan bangunan dakwah. Kekuatan tandhim (ikatan organisasi) sangat bergantung pada sejauh mana ketsiqahan jundi pada pimpinannya. Kekokohan jamaah berkait erat dengan ketahanan dalam membangun ketsiqahan antar qiyadah dan kader dakwah. Untuk itu, ketsiqahan yang terbangun pada setiap jenjang kaderisasi menjadi benteng yang ampuh dalam mewujudkan strategi dakwah dan aktivitas pengkaderan, serta upaya dalam mewujudkan target-target dakwah yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek.

Maka jamaah dakwah Islam merupakan jamaah yang sangat tidak mungkin bagi musuh-musuh Islam untuk merusak ikatan ukhuwwwah yang terjalin antar kader dengan virus-virus adu domba, ataupun mencoba mencabik-cabik keuntuhannya dengan propaganda.

Seorang pribadi mukmin yang tsiqah tidak mungkin akan mencurigai saudaranya seiman, meragui kepribadian dan kejujurannya, keikhlasan dan kemampuannya. Apabila syaithan telah menancapkan dalam hatinya jarum-jarum keraguan terhadap kemampuan pemimpinnya itu, maka hati yang dipenuhi cahaya iman akan segera bertaubat, astaghfirullahal ‘adhim.

Allah subhaanahu wata’ala senantiasa mengingatkan pribadi yang beriman dalam firman-Nya:
“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An-Nuur: 12)
Tidak diangggap pribadi yang beriman sekiranya belum mampu mengangkat syariat Islam sebagai aturan yang mendamaikan perselisihan di antar jamaah, serta belum menerima sepenuhnya segala ketetapan yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Segala hal yang diputuskan melalui system syura oleh orang-orang yang terjamin keimanan dan keikhlasannya. Maka tiada pilihan selain tunduk dan taat yang terungkap dalam wujud sam’an wa thaa’atan.

Inilah ikatan yang sangat indah dalam perjalanan tarbiyah dan dakwah. Ketsiqahan dan loyalitas yang lahir dalam jiwa setiap individu jamaah menjadikan setiap perselisihan akan selalu berakhir indah dalam bingkai aturan ilahiyah. Wallahul musta’an.

_______
H. Arif Rahmatillah Jafar, Lc. Dipl. M.E.I