Pemuda Zaman Now dan Kisah Ashabul Kahfi

ampir setiap orang Islam tau Surat Al-Kahfi, karena surat tersebut sangat dianjurkan untuk membacanya di hari Jum’at. Bagi orang yang membacanya dijanjikan ganjaran dan pahala yang besar.Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Hajar dalam Takhrijul Adzkar dengan status hadits hasan, dari Abu Said al-Khudri ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

مَن قرأ سورةَ [الكهف] في يومِ الجمعةِ؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at, ia akan diterangi dengan sinar di antara dua Jum’at

Ibnu Hajar juga mengatakan: “ini adalah hadits paling bagus kualitasnya dalam bahasan keutamaan membaca surat Al Kahfi.”

Imam Asy Syafi’i dalam kitab Al Umm (1/208) mengatakan:

بلَغَنَا أَنَّ من قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةُ الدَّجَّالِ، وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ على النبي (صلى اللَّهُ عليه وسلم) في كل حَالٍ وأنا في يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا، وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جاء فيها

“telah sampai dalil kepadaku bahwa orang yang membaca surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dan aku menyukai seseorang itu memperbanyak shalawat kepada Nabi Saw di setiap waktu dan di hari Jum’at serta malam Jum’at lebih ditekankan lagi anjurannya. Dan aku juga menyukai seseorang itu membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at dan pada hari Jum’at karena terdapat dalil mengenai hal ini”.

Surat yang indah ini dinamakan dengan surat “Kahfi”, nama yang mungkin sangat aneh bagi orang-orang Arab pada masa itu. Sehingga nama yang aneh ini menarik perhatian orang untuk mengkaji lebih dalam tentang isi kandungannya. Surat ini diberi nama al-kahfi yang berarti gua, kenapa? Tentu jawabnya, karena didalamnya menceritakan tentang ashabul kahfi (penghuni gua). Siapakah mereka? Dan mengapa mereka berada di dalamnya? Maka surat al-Kahfi ini benar-benar menarik perhatian orang-orang yang memiliki intelektual untuk mengkajinya.

Dalam ayat 9, surat Al-Kahfi Allah SWT mengatakan:

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبً

Ataukah  kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua itu dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”

Apa yang dimaksud dengan ar-Raqiim? Sebagian ahli tafsir mengartikan ar-raqiim itu nama anjing, dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat.

Kata Ar-raqiim itu berarti al-marqum artinya al-maktub yaitu yang ditulis. Dalam surat al-Muthaffifin ayat 9, Allah SWT menyebutkan:

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

“(ialah) kitab yang bertulis.”

Jadi ar-raqiim adalah sesuatu yang ditulis. Apa yang ditulis? Yang ditulis itu adalah kisah ashabul kahfi.

Kisah ashabul kahfi  adalah kisah yang sangat menarik. Kisah ini sangat menarik dan penting bagi generasi sekarang dan masa mendatang, maka sangat pantas kisah ini ditulis. Ditulis dalam lembaran wahyu, tersimpan dalam Al-quran untuk terus dibaca sepanjang masa.

Surat Al-Kahfi ini turun kepada Nabi Muhammad Saw ketika beliau berada di Mekkah, pada saat umat Islam sedang benar-benar dalam tekanan kaum musyrikin. Kisah ini datang untuk memperlihat gambaran perjuangan generasi terdahulu dalam menghadapi tantangan, serta bagaimana meraih keberhasilan di masa selanjutnya.

Di saat umat Islam hari ini menghadapi berbagai tekanan. Berhadapan dengan kekuasaan dan kedhaliman, dikucilkan oleh tirani dan kekuasaan, serta ditindas dengan fitnah dan tipu daya. Maka sudah sangat pantas generasi sekarang ini untuk membuka lembaran wahyu yang mengisahkan tentang generasi sebelumnya. Apalagi hari ini, generasi muda Islam yang merupakan kekuatan peradaban, kunci kebangkitan dan masa depan, serta penerus estafet perjuangan umat. Namun mereka dibuat tidak berdaya, dijajah alam pemikirannya, diracuni dengan budaya dan teknologi. Sehingga generasi muda Islam kini hidup bagaikan boneka mainan yang tidak lagi memiliki kepribadian dan kehormatan. Akhirnya, mereka hidup tanpa arah dan tujuan, tidak punya cita-cita dan impian, bahkan tidak memiliki semangat perjuangan. Kondisi generasi muda hari ini adalah gambaran kelam bagi masa depan umat Islam. Untuk itu, kisah ashabul kahfi menjadi panduan bagaimana karakter ideal para pemuda Islam.

Dalam ayat 13 dan 14 surat al-Kahfi, Allah SWT berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

“dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri[2], lalu mereka pun berkata, “Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran”.

Kedua ayat di atas menerangkan tentang karakteristik pemuda. Diksi yang Allah gunakan pun khas untuk para pemuda. Begitu mulianya peran para pemuda dalam agama ini, sehingga Allah mengisahkannya khusus dalam Al-Qur’an. Jumhur ulama bersepakat jika kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah cerita-cerita pilihan. Bukan saja kadar komposisinya terbanyak dalam Al-Qur’an yang mencapai 2/3 isi Al-Quran, akan tetapi kisah dan sejarah tersebut merupakan metode dakwah dan tarbiyah ilahiyah. Begitulah cara Allah mentarbiyah kita melalui pesan-pesan historis para nabi, rasul, dan orang-orang beriman dan shalih di masa lalu. Bahkan cerita tentang pemuda ini masuk dalam salah satu kisah yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an, yaitu Surat al-Kahfi.

Karakteristik pemuda pejuang tergambar jelas dalam ayat diatas. Mereka adalah pemuda yang memiliki keteguhan, ketangguhan dan ketabahan dalam perjuangan. Kepahlawanan mereka tak akan sirna dalam ingatan generasi setelahnya. Kita mengenal mereka sebagai “Pemuda Kahfi”, karena kesabaran mereka menghadapi resiko dan Allah memuliakan mereka.

Setidaknya, ada 3 kata kerja (fi’il)dalam dua ayat diatas yang menggambarkan karakter perjuangan pemuda Islam, yaitu:

Pertama, kata   آمنوا(mereka beriman). Mereka memiliki keyakinan, kedalaman iman, dan keteguhan hati. Kekuatan tekad mereka dalam jalan perjuangan bersumber dari keimanan yang menancap kuat di hati dan jiwa mereka. Ada faktor transenden antara ruh dan Sang Pencipta. Dengan iman yang kuat, maka ketaqwaan yang menjadi perisai utama mereka agar tetap tegar dalam perjuangan. Dengan demikian, tidak ada masalah sedikit pun dalam hal kedekatan mereka dengan Allah. Mereka merasakan janji dan pertolongan Allah begitu tampak dekat, sehingga kemudian Allah menambahkan petunjuk-Nya untuk mereka.

Kedekatan mereka dengan Allah SWT, terlihat jelas dalam ayat 10 surat al-Kahfi:

 إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

Arti kata أوى – يأوي – إيواء  dalam dalam bahasa Arab bermakna mendatanginya untuk mendapatkan ketenangan dan perlindungan. Sebagaimana kata aawa tersebut digunakan dalam beberapa ayat lainnya seperti dalam firman Allah SWT:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”  (QS. Adh-Dhuha: 6)

Demikian juga dalam kisah Nabi Yusuf as.:

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ

“dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, lalu Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya.” (QS. Yusuf: 69)

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 41)

Mengapa mereka itu mencari perlindungan ke gua? Apakah gua tempat yang menentramkan? Bukankah gua itu tempat yang pengap, dipenuhi dengan binatang-binatang berbisa? Tempatnya sempit, tiada makanan? Gua bukanlah tempat yang nyaman. Mereka berlari ke gua karena panggilan iman kepada Allah. Ketenangan bagi mereka bukan pada tempat yang indah atau fasilitas yang mencukupi. Ketenangan mereka ada saat mereka ada di sisi Allah, Sang Maha pemberi ketenangan sejati.

Kedua, kata  قاموا (berdiri). Kata “berdiri” biasanya diidentikkan sebagai antitesis dari kata “duduk”. Jadi, karakter perjuangan pemuda Islam ialah ketidakrelaan mereka untuk duduk-duduk santai. Mereka tak menyempatkan dirinya untuk berleha-leha dalam berjuang, memperbanyak istirahat, atau sekadar berpangku tangan. Ada ketidaknyamanan dalam dirinya di saat orang lain berjuang, namun dirinya tak mampu memberikan kontribusi kongkrit. Seorang pemuda Islam selalu bangkit dari keterpurukan dan kefuturan yang melanda. Mereka selalu punya semangat saat yang lain lumpuh dan lesu. Mereka rela untuk mencabut rasa kantuk dari pelupuk mata, lalu bangkit dan bekerja. Bahkan mereka merasa sangat rugi jika mata terkantuk-kantuk saat berada di medan juang. Mereka selalu menabur dan menebar inspirasi kebangkitan saat orang lain bosan untuk bangkit, bahkan melupakan perjuangan.

Kondisi sulit yang dialami umat Islam hari ini adalah buah dari sikap pemuda Islam kini mudah berpangku tangan, diam dan tidak peduli. Pemuda zaman now terperangkap dalam slogan “menikmati masa muda selagi masih bisa”. Mereka lupa dengan jati diri, apalagi dengan potensi yang menjadi anugerah terindah “usia emas”. Kondisi yang maksimal dalam peranggan waktu usia manusia dimiliki sepenuhnya oleh pemuda. Terkadang permata itu terbuang begitu saja tanpa kerja nyata dan prestasi, apalagi ada sebagian yang sengaja mencampaknya bahkan merusaknya dalam jaringan narkoba.

Ketiga, kata قالوا (berkata). Berani berkata benar adalah karakter perjuangan pemuda Islam yang luar biasa. Pemuda selalu deklaratif dalam perjuangan. Mereka tak segan-segan memproklamirkan kebenaran, bahkan saat berada di hadapan pemimpin yang zhalim. Pemuda Islam pun tak henti-hentinya berkreasi dan atraktif dalam bergerak. Mereka tak pernah kehabisan ide dan siasat perjuangan. Mereka tak mau bungkam untuk menyuarakan hak rakyat yang tertindas. Mereka tidak bisa diam untuk mencerdaskan umat yang tertipu propaganda musuh. Pemuda pejuang akan terus menuntut perbaikan dan senantiasa berpartisipasi aktif sebagai persembahan setulus-tulusnya bagi umat yang sedang terseok-seok nasibnya.

Merekalah para pemuda yang senantiasa bersuara dalam dunia nyata maupun dunia maya via media massa dan media sosial. Karena, pemuda pejuang selalu bertekad untuk tidak menutup mulutnya karena ketakutan. Tangan mereka pun tak gentar karena ancaman. Mereka senantiasa berbuat, berkarya, serta tidak lunglai lututnya karena ancaman dan penderitaan.

Dalam sebuah kesempatan, Amirul Mukiminin Umar bin Khattab berkata: “jika aku sedang menghadapi masalah besar, maka yang kupanggil adalah para pemuda.” Demikian juga Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pernah mengatakan, Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Wallahul musta’an, wailai turja’ul umur

 

Oleh Ust. Arif Rahmatillah Jafar, Lc. Dipl. M. E. I

Tinggalkan Komenter

Posted in Artikel.